Setiap datangnya bulan Ramadan, umat Islam sering mendengar bahwa syaitan dibelenggu. Pernyataan ini didasarkan pada hadits Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim: “Apabila datang bulan Ramadan, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu” (HR. Bukhari No. 1899, Muslim No. 1079).
Hadits ini menimbulkan pertanyaan di kalangan umat Islam: jika syaitan benar-benar dibelenggu, mengapa masih ada orang yang melakukan kemaksiatan selama Ramadan?
Keimanan terhadap hadits-hadits Nabi ﷺ adalah bagian dari ajaran Islam yang harus diterima. Namun, memahami makna dari teks-teks keagamaan harus dilakukan dengan pendekatan ilmiah dan tafsir ulama agar tidak terjadi kesalahpahaman. Banyak ulama yang menafsirkan hadits ini dengan berbagai perspektif yang perlu kita kaji lebih dalam.
Di sisi lain, Al-Qur’an menyebutkan bahwa godaan syaitan terhadap manusia tidak terbatas oleh waktu, sebagaimana firman Allah dalam surah Al-A’raf ayat 16-17: “Iblis berkata: Karena Engkau telah menghukumku tersesat, aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” Ayat ini menegaskan bahwa tipu daya syaitan berlangsung terus-menerus tanpa batas waktu tertentu.
Maka, dalam tulisan ini kita akan membahas makna sebenarnya dari hadits yang menyatakan bahwa syaitan dibelenggu di bulan Ramadan. Apakah pembelengguan ini bersifat fisik atau maknawi? Bagaimana pengaruhnya terhadap perilaku manusia selama Ramadan?
Salah satu pendekatan yang digunakan oleh para ulama dalam memahami hadits ini adalah dengan melihat makna kiasan atau metaforis di baliknya. Imam An-Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna “syaitan dibelenggu” dapat berarti bahwa mereka tidak lagi mampu menggoda manusia dengan kekuatan penuh sebagaimana di luar Ramadan. Ini dikarenakan keberkahan bulan Ramadan yang dipenuhi dengan ibadah, doa, dan atmosfer ketakwaan yang meningkat di kalangan umat Islam.
Pendapat lain datang dari Ibnu Taimiyah yang menyatakan bahwa hanya syaitan dari golongan jin yang dibelenggu, sedangkan syaitan dari kalangan manusia tetap bebas. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surah Al-An’am ayat 112: “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan jin…” Ini menunjukkan bahwa godaan dalam Ramadan tidak sepenuhnya lenyap, karena masih ada faktor internal dari diri manusia sendiri, yaitu hawa nafsu.
Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengklarifikasi pemahaman yang lebih tepat terkait hadits ini agar umat Islam tidak salah mengartikan dan tetap berusaha menjaga diri dari kemaksiatan di bulan Ramadan. Jika seseorang tetap melakukan dosa di bulan Ramadan, maka ini bisa jadi bukan karena godaan syaitan, melainkan karena kebiasaan buruk yang sudah tertanam sebelum Ramadan.
Beberapa ulama kontemporer seperti Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir juga menegaskan bahwa meskipun syaitan dibelenggu, bukan berarti manusia tidak akan tergoda. Faktor lingkungan, hawa nafsu, dan kebiasaan buruk sebelum Ramadan tetap berperan dalam mempengaruhi perilaku seseorang. Oleh karena itu, Ramadan seharusnya menjadi momen untuk melatih diri dalam melawan godaan, bukan hanya menyalahkan syaitan semata.
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa hadits tentang syaitan yang dibelenggu di bulan Ramadan memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar pemahaman literal. Para ulama memberikan berbagai penafsiran, mulai dari pembelengguan dalam arti terbatasnya pengaruh syaitan hingga sekadar metafora untuk menggambarkan suasana keberkahan Ramadan.
Realitas yang kita lihat menunjukkan bahwa masih ada orang yang berbuat dosa selama Ramadan. Ini membuktikan bahwa meskipun syaitan dibelenggu, godaan terhadap manusia tidak sepenuhnya hilang. Faktor utama yang mempengaruhi perilaku manusia adalah hawa nafsu dan kebiasaan yang telah tertanam sebelumnya.
Sebagai umat Islam, kita harus memahami bahwa Ramadan adalah kesempatan untuk memperbaiki diri, memperkuat iman, dan mengendalikan hawa nafsu. Firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 menegaskan bahwa tujuan puasa adalah untuk membentuk ketakwaan: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Oleh karena itu, tanggung jawab utama dalam menjaga kesucian Ramadan ada pada diri kita sendiri, bukan sekadar pada apakah syaitan dibelenggu atau tidak.
Dengan demikian, pemahaman yang benar terhadap konsep ini akan membantu kita untuk lebih bersungguh-sungguh dalam menjalani ibadah Ramadan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Wallahu a’lam bishawab.
Ditulis oleh: H. Bahktiar, Lc, MA, Wakil Ketua III DPRD Kepulauan Riau dan Ketua DPW PKS Kepri
