logo pks kepualuan riau

Website Resmi
Fraksi PKS Kepulauan Riau

Fraksi PKS, Penyambung Aspirasi Masyarakat
Kepulauan Riau

dprd kepriau (3)

Puasa Ramadan: Ibadah Fisik dan Spiritual yang Menyucikan Jiwa (Catatan Memetik Hikmah Ramadan ke-2)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

Puasa Ramadan merupakan salah satu rukun Islam yang diwajibkan bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Selain sebagai bentuk ketaatan kepada Allah, puasa juga memiliki dimensi fisik dan spiritual yang sangat dalam. Secara fisik, puasa memberikan manfaat bagi kesehatan tubuh, sedangkan secara spiritual, puasa berfungsi sebagai sarana pensucian jiwa dan peningkatan ketakwaan.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183). Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan dalam diri setiap Muslim.

Puasa juga tidak hanya sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari segala perbuatan yang dapat membatalkan pahala puasa. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya yang hanya sekadar meninggalkan makanan dan minuman.” (HR. Bukhari). Hadis ini menunjukkan bahwa puasa memiliki dimensi moral yang sangat penting.

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, banyak penelitian yang membuktikan bahwa puasa memiliki manfaat kesehatan yang luar biasa. Misalnya, dalam buku The Miracle of Fasting karya Paul Bragg, disebutkan bahwa puasa dapat membantu proses detoksifikasi tubuh dan memperbaiki metabolisme.

Dengan demikian, penting bagi setiap Muslim untuk memahami puasa Ramadan tidak hanya sebagai kewajiban ibadah, tetapi juga sebagai jalan menuju penyucian jiwa dan peningkatan kesehatan fisik.

Puasa Ramadan memiliki dua aspek utama yang perlu dikaji lebih dalam, yaitu aspek fisik dan aspek spiritual. Secara fisik, puasa membantu tubuh untuk melakukan proses detoksifikasi alami, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, dan memperbaiki metabolisme. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr. Yoshinori Ohsumi, peraih Nobel Kedokteran 2016, menunjukkan bahwa puasa dapat memicu proses autofagi, yaitu mekanisme alami tubuh untuk mendaur ulang sel-sel rusak agar tetap sehat.

Dari perspektif spiritual, puasa berfungsi sebagai sarana penyucian jiwa dan peningkatan ketakwaan kepada Allah SWT. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim). Puasa membantu membersihkan hati dari penyakit-penyakit batin seperti riya, sombong, dan dengki.

Selain itu, puasa juga memperkuat rasa empati terhadap sesama, terutama kepada mereka yang kurang beruntung. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman: “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.” (QS. Al-Insan: 8). Ayat ini menegaskan bahwa puasa tidak hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga pada hubungan sosial dalam masyarakat.

Puasa Ramadan adalah ibadah yang memiliki manfaat luas, baik dari segi fisik maupun spiritual. Secara fisik, puasa membantu tubuh dalam proses detoksifikasi, meningkatkan sistem imun, dan memperbaiki metabolisme. Penelitian ilmiah juga mendukung bahwa puasa dapat memperpanjang umur dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan.

Dari sisi spiritual, puasa menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan membersihkan hati dari berbagai penyakit batin. Dalam hadis Rasulullah SAW disebutkan bahwa puasa adalah tameng dari api neraka: “Puasa adalah perisai, maka janganlah seseorang berkata kotor atau bertindak bodoh. Jika seseorang mencacinya atau memeranginya, hendaklah ia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.'” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menunjukkan bagaimana puasa melatih kesabaran dan pengendalian diri.

Selain itu, puasa juga mengajarkan nilai-nilai sosial seperti empati dan kepedulian terhadap sesama. Dengan merasakan lapar dan haus, seseorang lebih memahami kondisi mereka yang kekurangan. Hal ini mendorong tumbuhnya rasa solidaritas dan kepedulian sosial yang lebih besar dalam masyarakat.

Sebagai kesimpulan, puasa Ramadan bukan hanya sekadar ibadah menahan lapar dan haus, tetapi juga merupakan latihan spiritual dan fisik yang menyucikan jiwa. Oleh karena itu, setiap Muslim hendaknya menjalankan ibadah ini dengan penuh kesadaran dan keikhlasan agar dapat meraih manfaatnya secara optimal, baik di dunia maupun di akhirat.

Ditulis oleh; H. Bahktiar, Lc, MA Wakil Ketua III DPRD Kepri dan Ketua DPW PKS Kepri

Referensi:

  1. Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI.
  2. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, Kitab Puasa.
  3. Bragg, Paul C., The Miracle of Fasting, Health Science Publications, 2004.
  4. Ohsumi, Yoshinori, Autophagy: Recycling Cellular Waste to Rejuvenate the Body, Nature Medicine Journal, 2016.