logo pks kepualuan riau

Website Resmi
Fraksi PKS Kepulauan Riau

Fraksi PKS, Penyambung Aspirasi Masyarakat
Kepulauan Riau

dprd kepriau (3)

Menjaga Lisan dan Hati (Catatan Memetik Hikmah Ramadan ke-8)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

Salah satu aspek penting dalam beribadah di bulan suci ini adalah menjaga lisan dan hati agar tetap bersih dari perkataan serta perbuatan yang dapat merusak pahala puasa. Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari). Hadis ini menegaskan bahwa ibadah puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga tutur kata serta perilaku dari hal-hal yang tercela.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali seseorang tanpa sadar terjerumus dalam dosa lisan seperti ghibah (menggunjing), dusta (berbohong), dan fitnah (menyebarkan berita bohong). Ketiga hal ini tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga orang lain, serta dapat menimbulkan perpecahan dalam masyarakat. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah mencari-cari keburukan orang lain serta janganlah menggunjingkan satu sama lain.” (QS. Al-Hujurat: 12). Ayat ini menegaskan pentingnya menjaga lisan agar tidak terjerumus dalam perbuatan yang merugikan.

Dengan memahami pentingnya menjaga lisan dan hati, kita dapat memaksimalkan pahala di bulan Ramadan serta meningkatkan kualitas hubungan sosial di antara sesama Muslim. Artikel ini akan membahas fenomena ghibah, dusta, dan fitnah dalam konteks kehidupan modern, serta cara menghindarinya agar puasa kita tidak sia-sia.

Di era digital saat ini, akses informasi sangat mudah dan cepat. Media sosial, grup percakapan, dan platform berita online sering menjadi sarana tersebarnya ghibah, dusta, dan fitnah. Tanpa disadari, banyak orang yang dengan mudah menyebarkan informasi tanpa memastikan kebenarannya, sehingga berdampak buruk bagi individu maupun masyarakat. Rasulullah ﷺ mengingatkan dalam hadisnya, “Cukuplah seseorang disebut pendusta jika ia menceritakan segala sesuatu yang didengarnya.” (HR. Muslim). Hal ini menunjukkan betapa pentingnya bersikap bijak sebelum menyebarkan informasi.

Ghibah atau menggunjing adalah salah satu penyakit lisan yang sering kali dianggap remeh. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda, “Tahukah kalian apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Yaitu engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang ia tidak sukai.” (HR. Muslim). Media sosial kerap kali menjadi tempat di mana seseorang membicarakan keburukan orang lain, baik secara langsung maupun dalam bentuk sindiran. Hal ini harus dihindari karena dapat merusak hubungan sosial dan mengurangi pahala puasa.
Dusta atau berbohong juga menjadi salah satu perbuatan yang sering kali dilakukan, baik dalam kehidupan nyata maupun dunia maya. Dusta dapat merusak reputasi seseorang, memperkeruh suasana, dan bahkan menyebabkan perpecahan di dalam masyarakat. Allah ﷻ berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. Az-Zumar: 3). Oleh karena itu, seorang Muslim harus senantiasa menjaga kejujuran dalam setiap perkataannya, terlebih lagi di bulan Ramadan yang penuh berkah.

Fitnah adalah bentuk kebohongan yang lebih berbahaya karena dapat menyebabkan kehancuran individu maupun kelompok. Dalam konteks modern, fitnah sering kali muncul dalam bentuk berita hoaks yang menyebar dengan cepat di media sosial. Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin menegaskan bahwa fitnah dapat merusak persaudaraan dan memecah belah umat Islam. Oleh karena itu, setiap Muslim harus berhati-hati sebelum menyebarkan informasi dan selalu memastikan kebenarannya.

Untuk menghindari ghibah, dusta, dan fitnah di era digital, kita dapat menerapkan beberapa langkah praktis, seperti berpikir sebelum berbicara atau membagikan informasi, menghindari konten yang mengandung ujaran kebencian, serta memperbanyak zikir dan doa agar diberikan kesabaran dalam menghadapi godaan lisan. Dengan demikian, kita dapat menjaga kesucian Ramadan dan mendapatkan pahala yang maksimal.

Menjaga lisan dan hati dari ghibah, dusta, dan fitnah merupakan bagian penting dari ibadah di bulan Ramadan. Islam mengajarkan bahwa puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari perkataan serta perbuatan yang dapat merusak pahala ibadah. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menjadi pedoman bagi kita agar senantiasa berhati-hati dalam berbicara dan berperilaku.

Di era digital, tantangan dalam menjaga lisan semakin besar. Media sosial sering kali menjadi tempat tersebarnya ghibah, dusta, dan fitnah yang dapat merusak hubungan antarindividu dan masyarakat. Oleh karena itu, seorang Muslim harus bijak dalam menggunakan media sosial serta memastikan kebenaran informasi sebelum membagikannya. Sebagaimana firman Allah ﷻ dalam QS. Al-Hujurat: 6, “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti…” Ayat ini mengajarkan kita untuk selalu tabayyun atau meneliti informasi sebelum mempercayainya.

Dengan menjaga lisan dan hati, kita tidak hanya menjaga kesucian puasa, tetapi juga berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang harmonis dan penuh kasih sayang. Ramadan adalah momen yang tepat untuk melatih diri agar lebih bijak dalam berbicara dan berinteraksi dengan sesama. Semoga Allah ﷻ memberikan kita kekuatan untuk senantiasa menjaga lisan dan hati, sehingga puasa kita diterima dan menjadi sarana untuk meraih ketakwaan yang sejati. Aamiin.

Ditulis oleh: H. Bahtiar, Lc, MA, Wakil Ketua III DPRD Kepulauan Riau dan Ketua DPW PKS Kepulauan Riau

Referensi:

1.Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI.
2.Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.
3.Imam Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin.
4.Tafsir Ibnu Katsir.
5.Buku “Menjaga Lisan dalam Islam” karya Dr. Yusuf Al-Qaradawi.