Puasa Ramadan merupakan salah satu rukun Islam yang diwajibkan bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Ibadah ini bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi memiliki tujuan yang lebih mendalam, yaitu mencapai derajat takwa. Allah SWT berfirman :
ياأيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183).
Ayat ini menegaskan bahwa hikmah utama dari puasa Ramadan adalah membentuk insan yang bertakwa. Namun, apa sebenarnya makna takwa, dan bagaimana puasa dapat menjadi jalan menuju ketakwaan? Topik ini akan menguraikan makna takwa serta relevansinya dengan ibadah puasa Ramadan.
Secara bahasa, takwa berasal dari kata waqā, yang berarti menjaga atau melindungi. Dalam terminologi Islam, takwa berarti kesadaran dan kepatuhan penuh kepada Allah SWT, menjauhi segala larangan-Nya, dan melaksanakan perintah-Nya dengan ikhlas. Imam Al-Ghazali dalam kitab Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn menjelaskan bahwa takwa memiliki tiga tingkatan: takwa orang awam (menjauhi maksiat), takwa orang khusus (menjauhi hal-hal syubhat), dan takwa orang paling khusus (menghindari segala sesuatu yang melalaikan dari Allah).
Puasa Ramadan merupakan sarana efektif untuk meningkatkan takwa. Dengan menahan lapar dan dahaga, seseorang belajar mengendalikan hawa nafsu, yang merupakan salah satu ciri utama orang bertakwa. Rasulullah SAW bersabda:
إنما الصوم جنة فإذا كان أحدكم صائما فلا يرفث ولا يجهل وإن امرؤ قاتله أو شاتمه فليقل إني صائم إني صائم
“Puasa adalah perisai, maka janganlah seseorang berkata kotor dan bertindak bodoh. Jika seseorang mencacinya atau menyerangnya, hendaklah ia mengatakan: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa’” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa puasa melatih kesabaran dan ketahanan diri terhadap godaan yang dapat mengurangi ketakwaan.
Selain itu, puasa juga membentuk kesadaran spiritual yang lebih dalam. Dengan menahan diri dari hal-hal yang halal di luar waktu berpuasa, seorang Muslim diharapkan lebih mudah meninggalkan hal-hal yang diharamkan.
Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Lathā’if al-Ma‘ārif menjelaskan bahwa puasa memiliki dimensi batiniah yang mendidik hati agar selalu merasa diawasi oleh Allah SWT, yang merupakan salah satu inti dari takwa.
Takwa yang dihasilkan dari puasa Ramadan juga tercermin dalam perilaku sosial. Ibadah ini mendorong kepedulian terhadap sesama, khususnya terhadap kaum fakir dan miskin. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ فَطَّرَ صَائمًا، كانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أجْر الصَّائمِ شيءٍ رواه الترمذي
“Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun” (HR. Tirmidzi).
Dari sini, tampak bahwa puasa tidak hanya bertujuan meningkatkan ketakwaan individu tetapi juga mempererat solidaritas sosial.
Puasa Ramadan bukan hanya sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi lebih dari itu, bertujuan membentuk pribadi yang bertakwa. Takwa dalam Islam berarti kesadaran penuh terhadap kehadiran Allah SWT dalam setiap aspek kehidupan, menjauhi larangan-Nya, serta menjalankan perintah-Nya dengan tulus.
Melalui puasa, seorang Muslim belajar mengendalikan hawa nafsu, meningkatkan kesabaran, serta memperkuat kepedulian sosial. Sebagaimana yang disebutkan dalam QS. Al-Baqarah: 183, puasa adalah jalan untuk mencapai ketakwaan yang sejati. Oleh karena itu, hendaknya setiap Muslim tidak hanya menjalankan puasa sebagai kewajiban ritual, tetapi juga sebagai sarana transformasi diri menuju kehidupan yang lebih bertakwa dan berkualitas di hadapan Allah SWT.
Ditulis oleh: H. Bahktiar, Lc, MA, Wakil Ketua III DPRD Kepulauan Riau
